26 Desember 2008

Islam itu Kiri dan Kiri itu Seksi

Oleh : Firman Wijaya *

“ Hendaknya ada diantara kamu sekelompok orang yang menyeru ke jalan pembebasan, menolak kepalsuan” (QS. Al Imran: 104)

Aneh, bahkan lucu bila ada mahasiswa apalagi yang mengaku aktifis pergerakan sangat alergi atau phobia disebut kiri. Karena yang phobia dengan term kiri itu hanya Orde Baru diatas dunia ini.

Memang seringkali term kiri selalu dikaitkan kepada mereka yang berideologikan materialisme-sekuler, sebut saja kaum komunis. Tapi pertanyaannya apakah benar kiri itu hanya political-claim untuk kaum komunis an sich.

Sebagai mahasiswa, das sollen memiliki tingkat kekritisan yang massive dalam mensikapi paradigma absurd atau “keblinger” ini, karena dianggap memiliki tingkat ketinggian dan kemerataan keilmuan (literate society). Kecuali kalau antum mahasiswa-mahasiswa “bodoh” atau mengutip term Mas Krisna-pelacur organisasi, atau aktifis organisasi warisan orde baru, sangat di mafhum.


Kiri Islam: Menuju Ridho Ilahi


Islam Kiri, mungkin sebagian mahasiswa wabil khusus yang mengaku dari gerakan Islam pasti kebingungan, dan balik tanya Islam ko’ kiri ?

Sebenarnya istilah “kiri-kanan” itu muncul pada abad ke-18 di Perancis. Istilah kiri ini untuk mengidentifikasi mereka yang kritis dan melawan kebijakan Rezim Monarki saat itu, sedangkan kanan adalah mereka yang mapan dan mendukung rezim. Kenapa disebut “kiri”, hal itu dikarenakan mereka yang anti rezim selalu diduduk disebelah kiri dalam setiap musyawarah.

Gerakan kiri Islam menemukan pijakan dan memiliki akar dalam khazanah intelektual Islam. Kenapa Islam melawan kemapanan keduniawian, karena zat yang paling mapan itu hanya Allah SWT, tidak zat yang paling mapan selain Dia, ini bersifat absolute (lihat QS. Al Ikhlas: 1).

Harus dibedakan gerakan kiri yang lahir dari materialisme (a non genesis theory), yaitu kiri yang dapat dibedakan menjadi dua, kiri-marxian disebut komunisme dan kiri non Marxian, berwajah populisme. Sedangan gerakan yang menjadi pijakan kiri Islam adalah spiritualisme (a genesis theory). Disini jelas bahwa kiri Islam sangat menyadari keterlibatan agama dalam aksi perlawanan terhadap rezim tidak seperti komunisme. Agama yang dianggap candu oleh Karl Marx sebenarnya merupakan ladang nilai-nilai yang secara konseptual memberikan pijakan gerakan pembebasan dan humanisasi.

Imam Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhahu ‘Alaihisalam, didalam Nahjul Balaghah bisa dijadikan literature pijakan bahwa Islam itu kiri atau melawan kemapanan,

Rakyat dimata Imam Ali AS., memang menjadi sentral kepeduliannya sebagai khalifah. Ia menegaskan bahwa :

“Sungguh besar kesengsaraan orang kelak dihadapan Allah menjadi lawan kaum yang dicengkeram kepapaan, kaum fakir miskin dan pengemis, orang yang tertindas, yang terjerumus hutang dan pengungsi yang terlunta-lunta dari tempat kedamainnya”.

Selanjutnya Hasan Hanafi dalam al yassar al Islami, menegaskan bahwa gerakan kiri Islam memiliki derivasi membebaskan, mencerahkan, kritis, plural, emansipatoris, dan demokratis.

Dalam Q.S. Al Qashas: 5 secara tegas Allah SWT. berfirman bahwa Allah menjanjikan alam dunia ini untuk orang-orang tertindas.

Kiri itu Seksi: Ideologi Operatif Melawan Rezim Despotis

Gerakan perlawanan terhadap rezim despotis bertujuan, meminjam term Marx-alienasi-, adalah mengeluarkan manusia dari proses alienasi dalam kehidupan.

Ashgar Ali Engineer menegaskan bahwa gerakan kiri Islam berangkat dari filosofis membela Tuhan menuju membela manusia. Disini jelas bahwa agama tidak hanya diletakkan pada konteks metafisika-filosofis, tapi juga digunakan sebagai pisau analisa kritis realitas sosial yang eksis. Kesadaran beragama seperti ini kemudian muncul dengan istilah liberation theology.

Kesimpulannya jika kita merasa sebagai muslim tapi belum mau membela saudara-saudaranya yang lemah dan dipinggirkan secara sistemik lebih baik jangan mengaku muslim. Selanjutnya kalau mahasiswa Islam tidak mau melawan kemapanan rezim atau malah jadi “anjing-anjing” kapitalis-birokrat (kabir) lebih baik pakai “rok mini”.

Kader HMI MPO Komisariat UIKA haruslah menjadi mujahid pembela panji-panji Islam. Ideologi komisariat “melawan atau diam tertindas” haruslah direproduksi secara massif dan progresif-revolusioner dalam meng-counter hegemoni baik di kampus, lokal kebogoran, maupun rezim nasional saat ini. HMI MPO di UIKA lahir dari suasana yang menindas mahasiswa saat itu, terutama Rektorat dan Rezim Mahasiswa UIKA yang didominasi organisasi ekstra kampus reaksioner sisa-sisa Orba. Sehingga kader HMI MPO UIKA Melawan sebagai suatu kewajiban kifayah. Kader HMI MPO UIKA tidak melawan lebih baik pakai “handuk” kuliah.

Gerakan kiri itu seksi karena selalu anti kemapanan dan progresif dalam melawan kezaliman. Mahasiswa ‘nggak kiri lebih baik kelaut aje-mancing-, mengutip term, kanda Riemay.Wallahu a’ bissowab [ ]

* Mantan Ketua Umum HMI MPO Komisariat UIKA Cabang Bogor Periode 2004-2005 M